Pulang

akhirnya pulang

akhirnya sesaat melepas jenuh akan realita

meskipun tidak selalu di rumah

maksudku, meskipun tetap diajak pergi teman lama

tapi tetap itu pulang

tetap aku rindu akan pulang

akan rumah

akan semua yang sempat ku tinggal

“dasar anak rantau pulang mulu!”

ㅡ A. anak rantau hobi pulang.

Advertisements

Hilang

ketika nanti semuanya hilang

aku harus berkata apa?

mengarungi lautan tanpa ujung

aku harus berbuat apa?

dalam sunyi aku tertawa

aku harus menertawakan keadaan apa?

jadi intinya apa?

intinya fikiran buntu itu akan hilang

meski meninggalkan beribu ganjal

meski meninggalkan beribu pertanyaan

sayang, aku ingin pulang

ㅡ A. kangen rumah.

Ada Apa dengan Indonesia?

Indonesia ini adalah tanah air beta

negeri pertiwi berjuta karya

negeri pertiwi berjuta senyum, kebaikan, kasih, dan sayang

negara demokrasi yang menjunjung tinggi pancasila

dengan menyatakan keadilan atas segalanya
namun, apa yang terjadi pada negeri tercintaku ini, kasih?

apa yang terjadi pada demokrasi negeri ini, kasih?

mengapa kami dibungkam?

mengapa orang-orang yang ingin berpendapat, serasa terkekang?

pemimpin negara, kemarin bertoleh kata pada kampus kami
namun, pak, mengapa teman kami dipukuli?

mengapa teman kami ditahan tanpa alasan yang jelas?

kami hanya menunggu kepastianmu, pak

paska maghrib kami duduk, berdoa sambil menunggu kehadiranmu pak

pak, kami disini ingin menyatakannya demi kecintaan pada negeri ini
saya mungkin belum dapat turun ke jalan

mungkin saya masih terkekang dengan jadwal kuliah padat

namun, saya ingin, setidaknya berkontribusi atas ini

saya, sebagai mahasiswa baru yang masih bocah ini, hanya ingin menyatakan mendapat lewat literasi
Indonesia tanah air beta

tiada bandingnya di dunia

ㅡ A. mahasiswa baru, ingin mencoba kritis. #DaruratDemokrasi

To You

to you who was as close as the air

to breathe and a kind of things that will never end

to a stranger will never meet

to you whom i long

to someone out there thinking of me not

to break someone’s heart is as close as the air breathe

not to calm down

to race your own things to become nothing

to beyond your imagination between things never ending

sad thing that airport reminds me of you

always

sad thing that plane reminds me of you

made those things be two kinds of things i hate and love most

thank you

for once promised me to stay

so please, dont say something you cant

would we be okay

if all those things never happen?

 ㅡ A. sedang kesal karena olahraga dibatalkan.

Serendipity

12243226_521192241376914_1361199113521286933_n - Copy

anxthersoul – word count: 936 words

|| Jeon Wonwoo || Jung Eunbi ||

Genre: friendship, family, a bit of angst and AU

Rating: general

© Dec, 2015

-=-=-

Kecelakaan beruntun terjadi pukul dua dini hari di dekat kanal di kota London membuat dua mobil terjatuh kedalam air. Diketahui pengendara berasal dari Republik Ceko dan—telfon rumahku berdering. Dengan cekatan, aku yang tepat berada disamping telfon tersebut mengangkatnya. “Halo?”

Is this the number one contact of Minju Jeon?” sedekat apapun aku dengan kakakku yang itu, aku tak pernah tau ia memiliki seorang pacar. Terakhir kutau, ia sedang menyelesaikan S2-kesenian-nya di London tanpa ingin menggaet satupun orang untuk menjadi pacarnya meski banyak orang yang mau.

Yeah. Maybe. May I help you?” dengan bahasa Inggris seadanya, atau ya…mungkin cukup untuk membalasnya.

Mrs. Jeon meets her fate.

Pardon?”

Her car drowned in the canal at two A.M.” dan dunia terasa mati bagiku. “We will repatriate her back to her hometown, South Korea. May I know who am I speaking with and where is she living at?” yah…meskipun nilai bahasa Inggrisku tidak bagus, tapi aku tau apa yang dimaksud orang ini. Aku tidak sebodoh itu untuk tidak tau apa yang dimaksud ‘Mrs. Jeon meets her fate’. Aku tidak sebodoh itu untuk tidak tau bahwa kakakku telah tiada.

Karena berita tadi pagi.

I’m her little brother, Wonwoo Jeon.” Menarik nafas panjang dan melanjutkan ucapanku. “I will send the address.”

“Thank you and I’m sorry for your loss.” Dan sambungan telfon jarak jauh itu terputus.

Bahkan sampai aku berdiri di depan pemakaman kakak tunggalku, aku masih tak percaya. Bahkan saat bajuku sudah berubah menjadi balutan jas hitam, celana hitam, kemeja putih dengan dasi hitam, dan juga pita tanda berduka di lengan kananku tidak membuatku sadar.

Ah, mungkin ini hanya mimpi.

Aku fikir begitu.

Tapi mimpi ini, berdampak seratus delapan puluh lima derajat buruk padaku. Semuanya lenyap. Mimpi yang kubangun dengan kakakku, hilang. Bahkan aku menahan tangis. Namun bendungan itu kropos dan hancur juga.

Kembali aku ditinggal sendiri di rumah, ralat, hanya dengan adikku.

Ah, orang tuaku? Aku tak yakin mereka peduli akan kejadian ini.

Kejadian yang berdampak lumayan parah itu sudah lewat, sekitar dua tahun yang lalu. Seharusnya aku sudah bisa bangun lagi sendiri, meski ada satu yang tak bisa dibangun lagi. Cuaca pagi ini cukup mendukung untuk kembali tidur dibangku sekolah, tidak dengan Mingyu yang terus bercerita disampingku. “Ohya, Jeon. Katanya akan ada murid baru.” Disana juga, aku hanya mengangguk. “Cantik.” Dan mengangguk. “Jago bernyanyi.” Dan mengangguk. “Dan menggambar.” Lalu aku terdiam, dilanjutkan dengan anggukkan yang lebih kecil.

Selang tak berapa lama, wali kelasku masuk. Membawa seorang gadis bertubuh kecil dibelakangnya. “Stand up and greeting to our teacher.” Serentak kelas berisi dua puluh anak ini menyapa guru kami dengan annyeonghaseyo dengan bungkukkan dan kembali duduk, termasuk aku.

“Ya. Disini saya dengan murid baru kelas ini, tolong perkenalkan dirimu.”

Hi! Name is Jung Eunbi. Please take care of me well.” Ia juga sedikit membungkukkan badannya. Lalu setelah wali kelasku menyampaikan satu dua patah kata pada seisi kelas juga dirinya, ia berjalan menuju bangku kosong tepat di hadapanku, lalu duduk disana. Setelah itu, hari sekolah berlangsung dengan indahnya.

Ada satu hal yang sangat kubenci dari pelajaran seni minggu ini. “Pasangannya sudah saya tentukan, kalian hanya harus membuat lukisan diatas kanvas berukuran 40 kali 60. Dikumpulkan minggu depan. Terima kasih.” Lalu desak-dusuk dengan inti, yang berpasangan dengan Wonwoo beruntung sekali muncul begitu saja.

Oh, dan juga, tapi, bukankah ia sudah tidak mau bersentuhan dengan alat lukis lagi?

Tebak siapa pasanganku? Jung Eunbi. “Emm…halo? Siapa namamu? Maaf aku tidak tau banyak anak kelas…”

“Jeon Wonwoo.” Dan ia mengangguk. Membuatku juga ikut mengangguk.

“Jadi? Wonwoo? Mau mengerjakan dimana?”

“Kau punya alat lukis?” gadis itu menggeleng. “Di rumahku saja kalau begitu.” Lalu gadis itu mengangguk setuju, tersenyum kecil.

Sore ini, pukul empat bel rumahku berdering. Gadis bermarga Jung itu disana. “Masuklah.” Iapun melangkah masuk. Hal yang dapat kutangkap dari wajahnya ada satu, yaitu ekspresinya.

“Siapa yang melukis semua ini, Wonwoo?”

Aku menoleh. “Aku.” Jawaban singkat itu sukses membuat mulutnya melebar. “Kakakku, dan adikku.”

“Wah! Kalau begitu, aku beruntung sepasang denganmu?”

“Tak juga. Aku sudah resign dari dunia lukis.”

“Ayolah…buat aku merasa beruntung sepasang denganmu!”

“Kalau itu, aku tidak janji.” Kemudian kedua netranya mengarah pada satu foto diujung ruangan.

“Kakakmu—“

“Sudah tiada. Kecelakaan dua tahun lalu. London. Kanal.” Sepertinya ia mengerti, karena mungkin ia melihat sertifikat kelulusan kakakku yang dengan bangga bergelar sarjana seni. Disamping fotoku dengan kakakku.

“Kau—“

“Ya. Karena kakakku.” Dia berhenti lagi. “Sudahlah. Ayo. Aku tidak ingin tidak dapat nilai kesenian atau dapat nilai jelek.” Akupun melangkah menaiki tangga, menuju ruang yang lama tak kusentuh. Membukanya perlahan. Semua alat itu masih tegap, terawat disana. Adikku yang merawatnya.

“Kecelakaan di kanal—ya?” aku mengangguk, tak sedikitpun menoleh kearahnya. “Bisakah karena aku, kau mulai melukis lagi?” aku menaikan kedua bahuku tidak tau menahu, membuka kain putih penutup easel. “Karena, wanita dari Republik Ceko adalah ibuku. Ia seorang pelukis, juga. Sama seperti kakakmu.” Baru setelah itu aku menoleh kearahnya.

Tersenyum singkat dan meletakkan kanvas kecil diatas easel tersebut. “Jadi, kau maukan?”

“Mau apa?”

“Melukis lagi.” Tidak menghiraukan jawabannya, aku hanya menarik palet yang ada diatas lemari kecil berisi cat-cat. Menuangkan beberapa warna dan mulai melukis kanvas yang ada dihadapanku. “Kau akan memulainya lagikan Jeon Wonwoo?? Aku yakin kalau kau mulai lagi, kau akan seterkenal kakakmu!”

“Kakakku tidak terkenal.” Gumamku sambil menahan senyum, aku terus melukis garis demi garis diatas kanvas.

Tapi sepertinya gumamanku terdengar juga. “Bohong! Kakakmu Jeon Minju. Ibuku pernah menyebutnya. Ibuku seorang dosen kesenian!” bahkan kini ia memunculkan setengah wajahnya dibalik kanvas. “Jadi, kau mau melukis lagi?” aku menahan tawa, menggeleng pelan. “Ayolahh…buat aku at least beruntung punya pasangan kelompok seperti kamu.” Dan menggeleng lagi. “C’mon~” dan itu membuatku benar-benar tertawa.

“Kau tau.”

“Apa?”

I found something good without looking for it.”

          —fin

Headline

bb6d57c870d7c5c44a1be945688af2df - Copy

Walking outside when its silent and alone.

Then someone out of blue following you, but when you turned around…

There’s no one.

When you kept hearing footsteps and the footsteps are getting near and loud.

Louder and closer.

So, you are starting to run.

But the sound just kept on getting closer.

Louder.

And then you realized, those footsteps were actually yours.

So you sighed in relive.

But then you felt something wrong.

Something weird.

Something that suddenly popped up.

A cat popped up, out of nowhere.

Then you picked the cat up, and found a necklace.

The necklace was written Lily.

It was written Owned by Lily but then you remembered.

That there was no one named Lily in your neighbor.

Then you put the cat back and thought for awhile.

You checked your phone, searching for a girl named Lily.

Then you found an article.

An article about a girl named Lily.

With big headline, A Girl Named Lily Commit Suicide.

Then you checked the time, three years ago.

Feeling something wrong, you checked the phone clearly and you found the same cat in the corner.

Looking at her lifeless body in a sad expression.

Out of nowhere, you felt dizzy all of the sudden.

In every single piece of those memories were coming back in a rush.

Who was Lily? What was their relationship before? Why was this cat here?

Those questions were coming inside your head, yet instead from remembering for more, you shook your head.

Not wanting those memories to come again.

While holding the cat, you walked again. This time, walking home so you can rest.

But then you heard that footsteps again.

And you realized that wasn’t yours anymore.

Slowly turned back your head and found a girl around your age, calling your name. “Y-yeah?”

Why were you leaving me behind?” she said softly, but loud enough for you to heard it. “Those skyscrapers are killing me and you were just walking away. I’m upset.” she continued with a sad tone.

I was not…” you said. Not even realizing that the cat already ran to the girl.

You were.” she walked closer. Her face were covered with blood, half of them were distroyed.

Her left hand were not in it own shape. Her school’s uniform was quite demage. Her school’s shirt was three-fourth covered with dark red color.

It was a mess.

Herself was a mess.

And out of nowhere, her hand already on your chest.

Pressing her middle finger there, “You know what? it all will over. You’re not going to have anymore grudge, but i’ll give you guilt. My friend.”

That night, everything changed.

The headline changed.