12243226_521192241376914_1361199113521286933_n - Copy

anxthersoul – word count: 936 words

|| Jeon Wonwoo || Jung Eunbi ||

Genre: friendship, family, a bit of angst and AU

Rating: general

© Dec, 2015

-=-=-

Kecelakaan beruntun terjadi pukul dua dini hari di dekat kanal di kota London membuat dua mobil terjatuh kedalam air. Diketahui pengendara berasal dari Republik Ceko dan—telfon rumahku berdering. Dengan cekatan, aku yang tepat berada disamping telfon tersebut mengangkatnya. “Halo?”

Is this the number one contact of Minju Jeon?” sedekat apapun aku dengan kakakku yang itu, aku tak pernah tau ia memiliki seorang pacar. Terakhir kutau, ia sedang menyelesaikan S2-kesenian-nya di London tanpa ingin menggaet satupun orang untuk menjadi pacarnya meski banyak orang yang mau.

Yeah. Maybe. May I help you?” dengan bahasa Inggris seadanya, atau ya…mungkin cukup untuk membalasnya.

Mrs. Jeon meets her fate.

Pardon?”

Her car drowned in the canal at two A.M.” dan dunia terasa mati bagiku. “We will repatriate her back to her hometown, South Korea. May I know who am I speaking with and where is she living at?” yah…meskipun nilai bahasa Inggrisku tidak bagus, tapi aku tau apa yang dimaksud orang ini. Aku tidak sebodoh itu untuk tidak tau apa yang dimaksud ‘Mrs. Jeon meets her fate’. Aku tidak sebodoh itu untuk tidak tau bahwa kakakku telah tiada.

Karena berita tadi pagi.

I’m her little brother, Wonwoo Jeon.” Menarik nafas panjang dan melanjutkan ucapanku. “I will send the address.”

“Thank you and I’m sorry for your loss.” Dan sambungan telfon jarak jauh itu terputus.

Bahkan sampai aku berdiri di depan pemakaman kakak tunggalku, aku masih tak percaya. Bahkan saat bajuku sudah berubah menjadi balutan jas hitam, celana hitam, kemeja putih dengan dasi hitam, dan juga pita tanda berduka di lengan kananku tidak membuatku sadar.

Ah, mungkin ini hanya mimpi.

Aku fikir begitu.

Tapi mimpi ini, berdampak seratus delapan puluh lima derajat buruk padaku. Semuanya lenyap. Mimpi yang kubangun dengan kakakku, hilang. Bahkan aku menahan tangis. Namun bendungan itu kropos dan hancur juga.

Kembali aku ditinggal sendiri di rumah, ralat, hanya dengan adikku.

Ah, orang tuaku? Aku tak yakin mereka peduli akan kejadian ini.

Kejadian yang berdampak lumayan parah itu sudah lewat, sekitar dua tahun yang lalu. Seharusnya aku sudah bisa bangun lagi sendiri, meski ada satu yang tak bisa dibangun lagi. Cuaca pagi ini cukup mendukung untuk kembali tidur dibangku sekolah, tidak dengan Mingyu yang terus bercerita disampingku. “Ohya, Jeon. Katanya akan ada murid baru.” Disana juga, aku hanya mengangguk. “Cantik.” Dan mengangguk. “Jago bernyanyi.” Dan mengangguk. “Dan menggambar.” Lalu aku terdiam, dilanjutkan dengan anggukkan yang lebih kecil.

Selang tak berapa lama, wali kelasku masuk. Membawa seorang gadis bertubuh kecil dibelakangnya. “Stand up and greeting to our teacher.” Serentak kelas berisi dua puluh anak ini menyapa guru kami dengan annyeonghaseyo dengan bungkukkan dan kembali duduk, termasuk aku.

“Ya. Disini saya dengan murid baru kelas ini, tolong perkenalkan dirimu.”

Hi! Name is Jung Eunbi. Please take care of me well.” Ia juga sedikit membungkukkan badannya. Lalu setelah wali kelasku menyampaikan satu dua patah kata pada seisi kelas juga dirinya, ia berjalan menuju bangku kosong tepat di hadapanku, lalu duduk disana. Setelah itu, hari sekolah berlangsung dengan indahnya.

Ada satu hal yang sangat kubenci dari pelajaran seni minggu ini. “Pasangannya sudah saya tentukan, kalian hanya harus membuat lukisan diatas kanvas berukuran 40 kali 60. Dikumpulkan minggu depan. Terima kasih.” Lalu desak-dusuk dengan inti, yang berpasangan dengan Wonwoo beruntung sekali muncul begitu saja.

Oh, dan juga, tapi, bukankah ia sudah tidak mau bersentuhan dengan alat lukis lagi?

Tebak siapa pasanganku? Jung Eunbi. “Emm…halo? Siapa namamu? Maaf aku tidak tau banyak anak kelas…”

“Jeon Wonwoo.” Dan ia mengangguk. Membuatku juga ikut mengangguk.

“Jadi? Wonwoo? Mau mengerjakan dimana?”

“Kau punya alat lukis?” gadis itu menggeleng. “Di rumahku saja kalau begitu.” Lalu gadis itu mengangguk setuju, tersenyum kecil.

Sore ini, pukul empat bel rumahku berdering. Gadis bermarga Jung itu disana. “Masuklah.” Iapun melangkah masuk. Hal yang dapat kutangkap dari wajahnya ada satu, yaitu ekspresinya.

“Siapa yang melukis semua ini, Wonwoo?”

Aku menoleh. “Aku.” Jawaban singkat itu sukses membuat mulutnya melebar. “Kakakku, dan adikku.”

“Wah! Kalau begitu, aku beruntung sepasang denganmu?”

“Tak juga. Aku sudah resign dari dunia lukis.”

“Ayolah…buat aku merasa beruntung sepasang denganmu!”

“Kalau itu, aku tidak janji.” Kemudian kedua netranya mengarah pada satu foto diujung ruangan.

“Kakakmu—“

“Sudah tiada. Kecelakaan dua tahun lalu. London. Kanal.” Sepertinya ia mengerti, karena mungkin ia melihat sertifikat kelulusan kakakku yang dengan bangga bergelar sarjana seni. Disamping fotoku dengan kakakku.

“Kau—“

“Ya. Karena kakakku.” Dia berhenti lagi. “Sudahlah. Ayo. Aku tidak ingin tidak dapat nilai kesenian atau dapat nilai jelek.” Akupun melangkah menaiki tangga, menuju ruang yang lama tak kusentuh. Membukanya perlahan. Semua alat itu masih tegap, terawat disana. Adikku yang merawatnya.

“Kecelakaan di kanal—ya?” aku mengangguk, tak sedikitpun menoleh kearahnya. “Bisakah karena aku, kau mulai melukis lagi?” aku menaikan kedua bahuku tidak tau menahu, membuka kain putih penutup easel. “Karena, wanita dari Republik Ceko adalah ibuku. Ia seorang pelukis, juga. Sama seperti kakakmu.” Baru setelah itu aku menoleh kearahnya.

Tersenyum singkat dan meletakkan kanvas kecil diatas easel tersebut. “Jadi, kau maukan?”

“Mau apa?”

“Melukis lagi.” Tidak menghiraukan jawabannya, aku hanya menarik palet yang ada diatas lemari kecil berisi cat-cat. Menuangkan beberapa warna dan mulai melukis kanvas yang ada dihadapanku. “Kau akan memulainya lagikan Jeon Wonwoo?? Aku yakin kalau kau mulai lagi, kau akan seterkenal kakakmu!”

“Kakakku tidak terkenal.” Gumamku sambil menahan senyum, aku terus melukis garis demi garis diatas kanvas.

Tapi sepertinya gumamanku terdengar juga. “Bohong! Kakakmu Jeon Minju. Ibuku pernah menyebutnya. Ibuku seorang dosen kesenian!” bahkan kini ia memunculkan setengah wajahnya dibalik kanvas. “Jadi, kau mau melukis lagi?” aku menahan tawa, menggeleng pelan. “Ayolahh…buat aku at least beruntung punya pasangan kelompok seperti kamu.” Dan menggeleng lagi. “C’mon~” dan itu membuatku benar-benar tertawa.

“Kau tau.”

“Apa?”

I found something good without looking for it.”

          —fin

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s